Wednesday, 20 August 2014

No Golput

         Tanggal 10 Juli akan segera datang, itu artinya rakyat Indonesia sebentar lagi akan merayakan pesta demokrasi untuk memilih siapa yang akan memimpin bangsa ini selanjutnya. Namun ketika yang lain sibuk memperdebatkan opini dan jagoan mereka masing-masing, Dono justru sibuk dengan gadget-nya sendiri tanpa mempedulikan apa yang sedang terjadi di sekitarnya.


         Suatu hari, Kasino dan Indro sedang duduk di kantin sekolah, lagi-lagi memperdebatkan capres yang layak duduk di kursi presiden. Adu argumen mereka semakin sengit, sama-sama mempertahankan pilihannya. Kemudian Indro melihat Dono yang sedari tadi hanya diam saja, sibuk dengan handphone-nya dan headset yang terpasang di salah satu telinganya.

        “Kamu kok diam aja sih, Don? Nimbrung dong! Kamu ada di pihak yang sama dengan Kasino atau aku?” tanya Indro ke Dono.

        “Buat apa aku ikut debat dengan kalian? Toh semua pemimpin di negeri ini ujung-ujungnya sama saja, korupsi. Mau siapapun presidennya Indonesia ya akan tetap begini-begini saja. Aku juga tidak akan menggunakan hak pilihku besok tanggal 10,” belum sempat Kasino membalas kata-kata Dono itu, Dono sudah lebih dulu beranjak dari kursinya dan meninggalkan dua orang temannya begitu saja. Yang ditinggal hanya bisa diam.


       Dua hari kemudian sepulang sekolah, Dono dan Kasino pergi ke kantor kecamatan untuk menyelesaikan tugas wawancara yang diberikan oleh guru bahasa Indonesia mereka. Mereka berniat mewawancarai pak camat seputar pekerjaannya menjadi seorang camat. Namun sebelum tiba giliran mereka untuk bertemu pak camat, mereka mendengar bahwa seseorang yang sedang berbicara dengan pak camat sedang berusaha membujuk pak camat agar mau menerima permintaannya untuk membuat KTP tanpa harus melalui prosedur yang telah ada. Terdengar suara pak camat yang menolak dengan sopan dan menjelaskan bahwa bapak tersebut harus melengkapi persyaratan seperti halnya warga-warga lain yang ingin membuat KTP baru. Sadar usahanya dalam menempuh jalan pintas tidak tersampaikan akhirnya bapak itu meninggalkan pak camat keluar ruangan setelah mengatakan maaf dan terima kasih sebelumnya. Kini giliran Dono dan Kasino untuk menemui pak camat untuk wawancara. Tak mereka sia-siakan kesempatan itu untuk menanyakan mengenai hal yang baru saja mereka dengar.

          “Ya, mau bagaimana.. sudah menjadi kewajiban saya untuk menolak orang yang maunya jalan pintas seperti tadi. Segala sesuatu kan sudah ada tahapan dan prosedurnya, ya tho? Saya mengemban amanah dari seluruh warga saya, tidak mungkin saya mengkhianati. Lagi pula uang dari hasil seperti itulah uang yang haram, tidak semestinya saya terima,” jelas pak camat panjang lebar.

           “Apa yang menjadi prinsip Bapak dan juga inspirasi Bapak?”

          “Prinsip saya sebenarnya cukup simple. Menjalankan amanah yang diberikan kepada saya dan melakukan segalanya dengan jujur dan ikhlas. Insya Allah semua akan menjadi berkah. Kalau yang menginspirasi saya sebenarnya para pejuang dan pahlawan Indonesia sendiri. Mereka saja rela mengorbankan nyawa mereka demi Indonesia yang merdeka, masak saya justru menodai kemerdekaan hasil jerih payah mereka dengan korupsi atau lainnya, ya tho? Rasanya kok jahat sekali gitu.”


         Setelah puas mendapat semua jawaban dari pak camat, Dono dan Kasino pun pamit untuk menyudahi wawancaranya dan mengucapkan banyak terima kasih.

         “Ternyata nggak semua pejabat itu korup ya, Kas? Pak camat ini buktinya berani menolak untuk disuap padahal bikin KTP kan nggak seberapa, tapi beliau tetap nggak mau menerima uang dari bapak tadi,” kata Dono sambil berjalan keluar kantor kecamatan.

          “Makanya jangan melihat semua memimpin dari satu sudut pandang saja, Don. Masih banyak orang jujur yang tetap memegang amanah mereka dengan benar. Maka dari itu kalau mau perubahan ya kamu harus ikut berpartisipasi dalam memilih pemimpin negerimu sendiri. Jangan sampai kamu menyesal di hari ke depannya hanya karena kamu menutup matamu dan tidak ikut berpartisipasi di pemilu nanti.

         “Hehe.. iya, Kas. Setelah aku pikir-pikir tadi aku nggak jadi golput. Nanti sesampainya di rumah aku akan membaca rekam jejak capres-capres kita agar aku nggak salah pilih besok. Aku pingin jadi generasi muda yang partisipan, ikut menentukan nasib bangsa ini,” kata Dono sambil tersenyum senang akan ikut memilih di pemilu nanti.


        Akhirnya tanggal 10 Juli pun tiba juga. Pagi-pagi sekali Dono sudah siap untuk pergi ke TPS bersama kedua orang tuanya untuk memberikan suaranya. Dono kini aktif mengikuti perkembangan berita baik di televisi maupun di koran. Bahkan di universitasnya saat ini, ia mengikuti banyak organisasi agar tetap aktif.



No comments:

Post a Comment