Tanggal 10 Juli akan segera datang,
itu artinya rakyat Indonesia sebentar lagi akan merayakan pesta demokrasi untuk
memilih siapa yang akan memimpin bangsa ini selanjutnya. Namun ketika yang lain
sibuk memperdebatkan opini dan jagoan mereka masing-masing, Dono justru sibuk
dengan gadget-nya sendiri tanpa
mempedulikan apa yang sedang terjadi di sekitarnya.
Suatu hari, Kasino dan Indro sedang
duduk di kantin sekolah, lagi-lagi memperdebatkan capres yang layak duduk di
kursi presiden. Adu argumen mereka semakin sengit, sama-sama mempertahankan
pilihannya. Kemudian Indro melihat Dono yang sedari tadi hanya diam saja, sibuk
dengan handphone-nya dan headset yang terpasang di salah satu
telinganya.
“Kamu
kok diam aja sih, Don? Nimbrung dong! Kamu ada di pihak yang sama dengan Kasino
atau aku?” tanya Indro ke Dono.
“Buat apa aku ikut debat dengan
kalian? Toh semua pemimpin di negeri ini ujung-ujungnya sama saja, korupsi. Mau
siapapun presidennya Indonesia ya akan tetap begini-begini saja. Aku juga tidak
akan menggunakan hak pilihku besok tanggal 10,” belum sempat Kasino membalas
kata-kata Dono itu, Dono sudah lebih dulu beranjak dari kursinya dan
meninggalkan dua orang temannya begitu saja. Yang ditinggal hanya bisa diam.
Dua
hari kemudian sepulang sekolah, Dono dan Kasino pergi ke kantor kecamatan untuk
menyelesaikan tugas wawancara yang diberikan oleh guru bahasa Indonesia mereka. Mereka
berniat mewawancarai pak camat seputar pekerjaannya menjadi seorang camat. Namun
sebelum tiba giliran mereka untuk bertemu pak camat, mereka mendengar bahwa
seseorang yang sedang berbicara dengan pak camat sedang berusaha membujuk pak
camat agar mau menerima permintaannya untuk membuat KTP tanpa harus melalui
prosedur yang telah ada. Terdengar suara pak camat yang menolak dengan sopan
dan menjelaskan bahwa bapak tersebut harus melengkapi persyaratan seperti
halnya warga-warga lain yang ingin membuat KTP baru. Sadar usahanya dalam
menempuh jalan pintas tidak tersampaikan akhirnya bapak itu meninggalkan pak
camat keluar ruangan setelah mengatakan maaf dan terima kasih sebelumnya. Kini giliran
Dono dan Kasino untuk menemui pak camat untuk wawancara. Tak mereka sia-siakan
kesempatan itu untuk menanyakan mengenai hal yang baru saja mereka dengar.
“Ya,
mau bagaimana.. sudah menjadi kewajiban saya untuk menolak orang yang
maunya jalan pintas seperti tadi. Segala sesuatu kan sudah ada tahapan
dan prosedurnya, ya tho? Saya mengemban
amanah dari seluruh warga saya, tidak mungkin saya mengkhianati. Lagi pula uang
dari hasil seperti itulah uang yang haram, tidak semestinya saya terima,” jelas
pak camat panjang lebar.
“Apa yang menjadi prinsip Bapak dan
juga inspirasi Bapak?”
“Prinsip saya sebenarnya cukup simple.
Menjalankan amanah yang diberikan kepada saya dan melakukan segalanya dengan jujur dan ikhlas. Insya Allah semua akan menjadi berkah. Kalau yang menginspirasi saya
sebenarnya para pejuang dan pahlawan Indonesia sendiri. Mereka saja rela mengorbankan
nyawa mereka demi Indonesia yang merdeka, masak saya justru menodai kemerdekaan
hasil jerih payah mereka dengan korupsi atau lainnya, ya tho? Rasanya kok jahat sekali gitu.”
Setelah
puas mendapat semua jawaban dari pak camat, Dono dan Kasino pun pamit untuk
menyudahi wawancaranya dan mengucapkan banyak terima kasih.
“Ternyata nggak semua pejabat itu
korup ya, Kas? Pak camat ini buktinya berani menolak untuk disuap padahal bikin
KTP kan nggak seberapa, tapi beliau tetap nggak mau menerima uang dari bapak
tadi,” kata Dono sambil berjalan keluar kantor kecamatan.
“Makanya jangan melihat semua memimpin
dari satu sudut pandang saja, Don. Masih banyak orang jujur yang tetap memegang
amanah mereka dengan benar. Maka dari itu kalau mau perubahan ya kamu harus
ikut berpartisipasi dalam memilih pemimpin negerimu sendiri. Jangan sampai kamu
menyesal di hari ke depannya hanya karena kamu menutup matamu dan tidak ikut
berpartisipasi di pemilu nanti.
“Hehe.. iya, Kas. Setelah aku pikir-pikir
tadi aku nggak jadi golput. Nanti sesampainya di rumah aku akan membaca rekam
jejak capres-capres kita agar aku nggak salah pilih besok. Aku pingin jadi
generasi muda yang partisipan, ikut menentukan nasib bangsa ini,” kata Dono
sambil tersenyum senang akan ikut memilih di pemilu nanti.
Akhirnya
tanggal 10 Juli pun tiba juga. Pagi-pagi sekali Dono sudah siap untuk pergi ke
TPS bersama kedua orang tuanya untuk memberikan suaranya. Dono kini aktif
mengikuti perkembangan berita baik di televisi maupun di koran. Bahkan di
universitasnya saat ini, ia mengikuti banyak organisasi agar tetap aktif.